Apakah nama 'Allah' itu
milik agama Islam? kalau begitu mengapa sudah digunakan sebelum agama Islam
lahir? Nama Allah sudah ada setua kelahiran bahasa Arab. Jauh sebelumnya di
Mesopotamia dimana rumpun semitik bermula, orang-orang sudah mengenal nama
El/Il sebagai nama dewa tertinggi dalam pantheon babilonia.
Namun bagi sebagian besar
keturunan Sem (dimana nama rumpun Semitik berasal), nama itu dimengerti sebagai
'Tuhan Yang Mahaesa pencipta langit dan bumi.' Nama El berkembang ke wilayah
Utara dan Barat menjadi Ela, Elah, dan khususnya di Aram-Siria nama itu disebut
Elah/Alaha dan dikalangan Ibrani disebut El/Elohim/Eloah. Sedangkan nama Il
berkembang di wilayah Timur dan Selatan menjadi Ila, Ilah, dan di Arab disebut
Ilah/Allah.
Catatan tertua pada
milenium kedua sebelum Kristus menunjukkan bahwa keturunan Abraham yang disebut
suku-suku Arab, khususnya Ibrahimiyah dan Ismaelliyah dikenal sebagai kaum
Hanif (jmk. Hunafa) menyebut nama 'Allah' dalam dialek Arab sejak zaman kuno. Ensiklopedia
Islam (hlm.50-51) menyebutkan, bahwa:
"Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah
dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam
adalah hunafa' (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya ditujukan pada
keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan
Ismail."
Dalam penemuan inskripsi
dikalangan suku Lyhian/Tamud ditemukan catatan dari sekitar abad VI/V SM
(semasa Ezra) bahwa nama Allah sudah digunakan, dan menarik mengetahui bahwa
suku Lyhian sangat erat dengan suku Dedan, dimana Dedan adalah cucu Ketura,
isteri Abraham:
"Inskripsi Arab Utara. . Nama-nama Allah pertama menjadi umum di teks
Lyhian. . Bukti ditemukannya nama Allah menunjukkan bahwa Lyhian adalah pusat penyembahan
Allah di Arab."
Orang Siria, menekankan
kata benda umum 'allah' menjadi nama diri dengan menambahkan elemen
"a": allaha = "the god" lalu menjadi "God". .
Ketika orangLyhian mengambil alih nama diri Allaha, nama itu diarabkan dengan
menghilangkan elemen "a"." (F.V. Winnet, Allah Before Islam,
dalam The Muslim World, Vol.38, 1938, hlm.245-248)
Ada yang mencoba
memberikan stigmatisasi seakan-akan nama Allah itu nama berhala Siria kuno,
namun dari Tanakh kita mengetahui bahwa dalam kitab Ezra yang berasal abad VI
SM, kita mengenal ada banyak nama 'Alaha' yang ditujukan kepada 'Elah Yisrael'
(Ezr 5:1;6:14). Studi yang sama dikemukakan Trimingham dalam bukunya
'Christianity Among the Arabs in Pre-Islamic Times', yaitu bahwa nama 'Allah'
sudah lama digunakan dikalangan suku-suku Arab termasuk yang kristen dan
berasal dari 'Alaha' Aram, bahasa Arab diketahui berkembang dari Nabati-Aram.
Jadi adanya dugaan bahwa 'Allah sesembahan Lihyan itu dewa Siria oleh Winnet
dan Trimingham disebutkan bahwa nama itu ditujukan kepada 'Alaha' Aram yang
menunjuk kepada 'Elah Yisrael.'
Pendapat Trimingham tidak bisa diabaikan, sebab ia belajar ilmu sosial
(Birmingham) dan studi Arab & Persia
(Oxford) kemudian mengambil doktor dan mengajar 'Studi Arab & Islam'
selama 11 tahun di University of Glasgow, ia juga menjabat sekertaris badan
misi ke Sudan dan melakukan kunjungan secara intensif ke Afrika. Setelah
memperdalam bahasa Arab di Siria dan Palestina ia mengajar Sejarah Arab selama
13 tahun di American University (Beirut).
Berbeda dengan anggapan
sekelompok orang yang menyebutkan bahwa orang Kristen Arab semula menyebut
'Al-Ilah' dan baru pada masa Islam mereka dipaksa menggunakan nama 'Allah,'
fakta sejarah menunjukkan bahwa sejak awal orang Arab beragama Yahudi dan
Kristen sudah menggunakan nama 'Allah' dalam ibadah mereka.
Pater Pacerillo,
arkeolog Franciscan menemukan rumah-rumah di Siria, Lebanon dan Palestina dari
abad IV dengan inskripsi 'Bism Ellah al Rahmani al Rahimi' (Dalam nama Allah
yang pengasih dan penyayang). Trimingham juga menyebutkan bahwa pada Konsili
Efesus (431) hadir seorang uskup Arab bernama Abdelas/Abdullah (Abdi
Allah), sedangkan Bambang Noorsena S.H. yang mengambil pasca-sarjana
dalam sastra Arab di Kairo selama 2 tahun, dalam bukunya menyebut bahwa sebelum
Islam lahir, pemakaian istilah Allah di lingkungan Kristen bisa dilihat dari
sejumlah inskripsi dari masa pra-Islam yang ditemukan disekitar wilayah Syria
dimana nama Al-Ilah/Allah disebut:
"Ada dua inskripsi penting: pertama inskripsi Zabad (tahun 512) yang
diawali dengan rumusan 'Bism al-Ilah'
(Dengan nama al-Ilah) yang kemudian disusul dengan nama-nama Kristen
Syria, dan kedua, Inskripsi 'Umm al-Jimmal' (juga berasal abad ke-6 Masehi)
yang diawali dengan ucapan 'Allahu ghafran' (Allah mengampuni)." (History
of Allah, hlm.10)
Noorsena juga menyebutkan
bahwa ada teks Aram Suryani masa itu dimana nama 'Alaha' diterjemahkan menjadi
teks 'Allah' Arab:
"Risalah fit at Tadbir al-Khalash li Kalimat Allah al-Mutajjasad
(bahasa Suryani-Arab), karya Mar Ya'qub al-Rahawi (James of Eddesa). Buku ini
diawali kalimat: Allah..., menerjemahkan teks asli yang diawali: Alaha... (teks
asli Suryani ditulis tahun 578 M)". (The History of Allah, hlm.12.)
Menarik juga mengamati
penggunaan nama 'Allah' di kalangan Arab beragama Yahudi, dimana sebelum Islam
lahir ada Imam Sinagoge di Medinah yang bernama 'Abdallah bin Saba.' Bukan
hanya itu, data Al-Quran sendiri menyebutkan bahwa pada masa Muhammad di gereja
dan sinagoge sudah banyak disebut nama Allah:
"(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka
tanpa alas an yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami
hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian
manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara
Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid,
yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong
orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi
Maha Perkasa." (QS.22:40)
Muhammad menyebut bahwa
nama 'Allah' sudah disebut orang Yahudi dan Nasrani, ia tidak menyebut
orang-orang itu mengucapkan 'Al-Ilah,' maka karena waktu itu Islam dan Al-Quran
baru lahir, tentunya penggunaan nama 'Allah' dikalangan Arab beragama Yahudi
dan Nasrani sudah lebih dahulu terjadi lama sebelumnya.
Dari kenyataan diatas
kita mengetahui bahwa pada masa dahulu, apalagi pada masa bahasa lisan
pra-tulis, penggunaan nama 'Allah' bisa terjadi sebagai derivasi 'allaha' Aram,
dan sekalipun mayoritas pakar Arab menyebutnya padanan 'Al-Ilah,' belakangan
ini dikembangkan pendapat sebagai nama diri yang berdiri sendiri.
Memang pada masa modern
dengan berkembangnya ilmu tata-bahasa (gramatika) orang berusaha untuk
merumuskan bahasa secara diskriptif, namun bahasa adalah ilmu yang berkembang
sepanjang waktu, karena itu tidak bisa dibatasi dengan gamatika modern
sebagaimana halnya rumus-rumus ilmu pasti/fisika yang mengamati hukum-hukum
alam yang tetap.
Nama 'Allah' sudah
digunakan Alkitab bahasa Arab sedini tahun 630-an sebelum Al- Quran ditulis,
dimana fragmen-fragmen dalam bahasa Arab mulai ditulis oleh Patriakh Aby Sedra II,
dan yang disusun lengkap berasal dari Hunayan bin Ishaq dan Saadia Gaon pada
abad IX. Sejak itu nama 'Allah' terus digunakan dalam Alkitab bahasa Arab
termasuk empat versi yang sekarang digunakan oleh sekitar 29 juta umat kristen
Arab diseluruh dunia.
Di Indonesia sejak masuknya agama Islam (abad XIII) dan
Kristen (abad XVI), nama 'Allah' sudah terserap dalam bahasa Melayu dan kemudian
masuk kosa-kata bahasa Indonesia, dan sudah digunakan sedini ditulisnya
terjemahan Melayu pada tahun 1629 dan kemudian digunakan sampai sekarang, dan
sekalipun Indonesia memiliki populasi Islam terbesar di dunia selama ini tidak
ada yang mempersoalkan penggunaan nama Allah itu mengingat nama itu sudah
menjadi kosa-kata bahasa Indonesia dan digunakan dalam Alkitab Kristen sejak
awal selama 4 abad, kecuali dipersoalkan oleh sekelompok kecil orang.
Menarik juga untuk
diamati bahwa di Timur Tengah, penggunaan nama 'Allah' oleh mereka yang
beragama Yahudi, Kristen, dan Islam yang berbahasa Arab digunakan bersama tanpa
masalah, karena itu memang aneh kalau masakini ada orang diluar Palestina yang
bukan Arab atau berbahasa ibu Arab yang memberikan stigmatisasi seakan-akan itu
nama 'berhala dewa bulan.' Mereka kurang mengerti bahwa dalam Al-Quran tidak
pernah disebut Allah sebagai nama dewa bulan, bahkan ayat-ayat Al- Quran
menyebutkan sebaliknya, a.l. dalam ayat berikut:
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah
yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu
mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat)
dipalingkan (dari jalan yang benar)." (QS.29:61)
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari
dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya,
Jika Ialah yang kamu hendak sembah." (QS.41:37)
Ini tidak menutup
kemungkinan bahwa dikalangan Arab Lihyan dan Arab Jahiliah, disamping kaum
Hanif ada juga penyembah berhala yang menyebut dewa mereka dengan sebutan
Allah. Namun pada masa Islam hadir, keyakinan monotheisme kaum Hanif itu
dipulihkan.
"Gagasan tentang
Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab
kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa' (tngl.hanif),
sebuah kata yang pada asalnya dituju-kan pada keyakinan monotheisme zaman kuno
yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail.
Menjelang abad ke-7,
kesadaran agama Ibrahim di kalangan bangsa Arab ini telah menghilang, dan
kedudukan-nya digantikan oleh pemujaan sejumlah berhala ... dalam waktu 20
tahun seluruh tradisi Jahiliyyah tersebut terhapus oleh ajaran Tuhan yang
terakhir, yakni Risalah Islam". (Ensiklopedia Islam, hlm.50-51)
"Karena Islam
memperbaiki agama yang dibawa Ibrahim, yakni agama fitrah, maka jahiliyah
dipandang sebagai sebuah zaman sebelum kedatangan Islam, ibarat kegelapan
sebelum terbit fajar. Pada zaman ini ajaran monotheisme Ibrahim telah musnah
berganti dengan sistem paganisme, dan diwarnai dekadensi moral.
Sejumlah berhala
sesembahan didatangkan ke Makkah dari berbagai negeri di Timur Tengah. Namun
tidak semua warga Arab pada saat itu menganut sistem keyakinan pagan, melainkan
terdapat beberapa suku Arab memeluk agama Kristen dan Yahudi. Bahkan terdapat
sejumlah pribadi yang menekuni dunia spiritual, mereka itu dinamakan 'hunafa'
(tgl. hanif) yang mana mereka tidak memihak kepada satu di antara kedua agama
tersebut, melainkan mereka bertahan pada ajaran monotheisme Ibrahim". (Ensiklopedia
Islam, hlm.190)
Kemerosotan penggunaan
nama sesembahan 'Allah' tidak hanya terjadi dikalangan Arab, sebab dikalangan
Yahudi pun kemerosotan yang sama juga terjadi. 'Elohim' disamping untuk
menyebut 'Pencipta Langit dan Bumi' (Kej.1:1) juga digunakan untuk
menyebut 'berhala anak lembu' (Kel.32:1,4), bahkan 'berhala anak lembu'
itu juga disembah sebagai YHWH (Kel.32:5).
Menarik juga melihat
fakta bahwa ada Al-Quran dalam bahasa Ibrani yang diterbitkan di Israel dimana
nama 'Allah' diterjemahkan 'Elohim' (Al-Quran Tirgem Avrit, Devir Publishing
House, Tel-Aviv, 1945).
"Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian! Amin."
(Rm 15:33).
Sumber: www.yabina.org.
0 comments:
Post a Comment